Jalaluddin Rumi Dan Syairnya
Sejak itu Bahauddin bersama keluarganya hidup berpindah- pindah dari suatu negara ke negara
lain. Mereka pernah tinggal di Sinabur (Iran timur laut). Dari Sinabur
pindah ke Baghdad, Makkah, Malattya (Turki), Laranda (Iran tenggara) dan
terakhir menetap di Konya, Turki. Raja Konya Alauddin Kaiqubad,
mengangkat ayah Rumi sebagai penasihatnya, dan juga mengangkatnya
sebagai pimpinan sebuah perguruan agama yang didirikan di ibukota
tersebut. Di kota ini pula ayah Rumi wafat ketika Rumi berusia 24 tahun.
Di samping kepada ayahnya, Rumi juga berguru kepada Burhanuddin Muhaqqiq at-Turmudzi,
sahabat dan pengganti ayahnya memimpin perguruan. Rumi juga menimba
ilmu di Syam (Suriah) atas saran gurunya itu. Ia baru kembali ke Konya
pada 634 H, dan ikut mengajar pada perguruan tersebut.
Setelah Burhanuddin wafat,
Rumi menggantikannya sebagai guru di Konya. Dengan pengetahuan agamanya
yang luas, di samping sebagai guru, ia juga menjadi da’i dan ahli hukum Islam. Ketika itu di Konya banyak tokoh ulama berkumpul. Tak heran jika Konya kemudian menjadi pusat ilmu dan tempat berkumpul para ulama dari berbagai penjuru dunia.
Kesufian dan kepenyairan Rumi dimulai ketika ia sudah berumur cukup tua,
48 tahun. Sebelumnya, Rumi adalah seorang ulama yang memimpin sebuah
madrasah yang punya murid banyak, 4.000 orang. Sebagaimana seorang
ulama, ia juga memberi fatwa dan tumpuan ummatnya untuk bertanya dan
mengadu. Kehidupannya itu berubah seratus delapan puluh derajat ketika
ia berju
PENGARUH TABRIZ
Masa kecil Rumi, adalah masa pendidikan keras yang diterimanya. Ia tumbuh menjadi seorang lelaki yang kaku, selain Qur’an, hadits, fiqh, tafsir dan filsafat ia tak mau mempelajarinya. Sampai kemudian ia bertemu dengan seorang yang merubah hidupnya. Syamsi Tabriz, seorang sufi yang dengan tenang pernah membuang buku-buku filsafat Rumi ke dalam sumur. “Buku ini sangat rumit dan sulit dipahami,” katanya sambil melempar buku-buku tebal Rumi ke dasar sumur.
Kontan saja, Rumi marah besar dibuatnya
dan mengatakan betapa besar kerugian akan peristiwa itu. Tapi Syamsi,
masih tenang. Tak banyak bicara ia menarik keluar buku-buku Rumi.
Ajaib, semuanya utuh tak basah meski hanya selembar saja. Peristiwa
itulah yang membuat Rumi memohon untuk menjadi murid Syamsi.
Suatu saat, seperti biasanya Rumi
mengajar di hadapan khalayak dan banyak yang menanyakan sesuatu
kepadanya. Tiba- tiba seorang lelaki asing –yakni Syamsi Tabriz– ikut
bertanya, “Apa yang dimaksud dengan riyadhah dan ilmu?” Mendengar
pertanyaan seperti itu Rumi terkesima. Kiranya pertanyaan itu jitu dan
tepat pada sasarannya. Ia tidak mampu menjawab. Berikutnya, Rumi
berkenalan dengan Tabriz. Setelah bergaul beberapa saat, ia mulai kagum
kepada Tabriz yang ternyata seorang sufi. Ia berbincang-bincang dan
berdebat tentang berbagai hal dengan Tabriz. Mereka betah tinggal di
dalam kamar hingga berhari-hari.
Rumi benar-benar tunduk kepada guru
barunya itu. Di matanya, Tabriz benar-benar sempurna. Cuma celakanya,
Rumi kemudian lalai dengan tugas mengajarnya. Akibatnya banyak muridnya
yang protes. Mereka menuduh orang asing itulah biang keladinya. Karena takut terjadi fitnah dan takut atas keselamatan dirinya, Tabriz lantas secara diam-diam meninggalkan Konya.
Bak remaja ditinggalkan kekasihnya,
saking cintanya kepada gurunya itu, kepergian Tabriz itu menjadikan Rumi
dirundung duka. Rumi benar-benar berduka. Ia hanya mengurung diri di
dalam rumah dan juga tidak bersedia mengajar. Tabriz yang mendengar
kabar ini, lantas berkirim surat dan menegur Rumi. Karena merasakan
menemukan gurunya kembali, gairah Rumi bangkit kembali. Dan ia mulai
mengajar lagi.
Beberapa saat kemudian ia mengutus putranya, Sultan Salad, untuk mencari Tabriz di Damaskus.
Lewat putranya tadi, Rumi ingin menyampaikan penyesalan dan permintaan
maaf atas tindakan murid-muridnya itu dan menjamin keselamatan gurunya
bila berkenan kembali ke Konya.
Demi mengabulkan permintaan Rumi itu,
Tabriz kembali ke Konya. Dan mulailah Rumi berasyik-asyik kembali dengan
Tabriz. Lambat-laun rupanya para muridnya merasakan diabaikan kembali,
dan mereka mulai menampakkan perasaan tidak senang kepada Tabriz.
Lagi-lagi sufi pengelana itu, secara diam-diam meninggalkan Rumi, lantaran takut terjadi fitnah. Kendati Rumi ikut mencari hingga ke Damaskus, Tabriz tidak kembali lagi.
Rumi telah menjadi sufi, berkat
pergaulannya dengan Tabriz. Kesedihannya berpisah dan kerinduannya untuk
berjumpa lagi dengan gurunya itu telah ikut berperan mengembangkan
emosinya, sehingga ia menjadi penyair yang sulit ditandingi. Guna
mengenang dan menyanjung gurunya itu, ia tulis syair- syair, yang
himpunannya kemudian dikenal dengan nama Divan-i Syams-i Tabriz. Ia
bukukan pula wejangan-wejangan gurunya, dan buku itu dikenal dengan nama
Maqalat-i Syams Tabriz.
Selain menulis puisi,
Syamsi Tabriz, mendiang gurunya itu mengenalkan pula kepada Rumi tarian
religi yang biasa di sebut Sama’. Tarian ini biasanya dibawakan oleh
para darwis, orang-orang yang mempelajari ajaran sufi. Kebanyakan di
antara mereka adalah laki-laki.
Tarian ini melambangkan kebebasan manusia untuk bertemu Tuhannya. Para penari memakai baju putih dengan bagian bawah yang lebar, seperti rok panjang.
Asesoris lain adalah turbus sewarna yang menjulang di atas kepala.
Mereka berputar, pertama membaca al Fatiha, kian lama kian cepat putaran
mereka. Kemudian hanya kalimat Allah, Allah, Allah saja yang terdengar nyaris seperti dengungan lebah.
Kini, meski bukan Rumi yang melakukan tarian ini untuk pertama kali, tapi Sama’ nyaris identik dengan Rumi. Jalaludin Rumi,
dalam pengasingan dirinya menuangkan puisi-puisi jiwayang lahir dari
hubungan saat beribadah. Tak heran jika membaca puisi Rumi, seakan
menemukan kesejukan tersendiri karena puisinya lahir dari dasar hati.
Rumi kemudian mendapat sahabat dan sumber inspirasi baru, Syekh Hisamuddin Hasan bin Muhammad. Atas dorongan sahabatnya itu, ia berhasil selama 15 tahun terakhir masa hidupnya menghasilkan himpunan syair yang besar dan mengagumkan yang diberi nama Masnavi-i. Buku ini terdiri dari enam jilid dan berisi 20.700 bait syair.
Dalam karyanya ini, terlihat ajaran-ajaran tasawuf yang mendalam, yang
disampaikan dalam bentuk apologi, fabel, legenda, anekdot, dan
lain-lain. Karya tulisnya yang lain adalah Ruba’iyyat (sajak empat baris dalam jumlah 1600 bait), Fiihi Maa fiihi (dalam bentuk prosa; merupakan himpunan ceramahnya tentang tasawuf), dan Maktubat (himpunan surat-suratnya kepada sahabat atau pengikutnya).
Bersama Syekh Hisamuddin pula, Rumi mengembangkan tarekat Maulawiyah atau Jalaliyah.
Tarekat ini di Barat dikenal dengan nama The Whirling Dervishes (Para
Darwisy yang Berputar-putar). Nama itu muncul karena para penganut
tarekat ini melakukan tarian berputar-putar, yang diiringi oleh gendang
dan suling, dalam dzikir mereka untuk mencapai ekstase.
== Karya ==
Diakui, bahwa puisi Rumi memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan para sufi penyair lainnya. Melalui puisi-puisinya Rumi menyampaikan bahwa pemahaman atas dunia hanya mungkin didapat lewat cinta, bukan semata-mata lewat kerja fisik. Dalam puisinya Rumi juga menyampaikan bahwa [[Tuhan]], sebagai satu-satunya tujuan, tidak ada yang menyamai.
Banyak dijumpai berbagai kisah dalam
satu puisi Rumi yang tampaknya berlainan namun nyatanya memiliki
kesejajaran makna simbolik. Beberapa tokoh sejarah yang ia tampilkan
bukan dalam maksud kesejarahan, namun ia menampilkannya sebagai
imaji-imaji simbolik. Tokoh-tokoh semisal [[Yusuf]], [[Musa]],
[[Yakub]], [[Isa]] dan lain-lain ia tampilkan sebagai lambang dari
keindahan jiwa yang mencapai [[ma'rifat]]. Dan memang tokoh-tokoh
tersebut terkenal sebagai pribadi yang diliputi oleh cinta Ilahi.
Karya utama Jalaluddin Rumi, yang secara
umum dianggap sebagai salah satu buku luar biasa di dunia, adalah
Matsnawi-i-Ma’anawi (Couplets of Inner Meaning). Percakapan informalnya
(Fihi ma Fihi), surat-surat (Maktubat), Diwan dan hagiografi Manaqib
al-Arifin, semuanya mengandung bagian-bagian penting dari
ajaran-ajarannya.
Pilihan-pilihan berikut ini, diambil
dari semua sumber tersebut, bertema meditasi yang dapat diambil sebagai
aforisme dan deklarasi dogma, atau sepotong nasihat guru. Penggunaan
kata-kata Sufistik mereka, berlangsung terus. Ar-Rumi, seperti penulis
Sufi lain, menanamkan ajarannya dalam sebuah kerangka yang secara
efektif menjabarkan makna batiniah sebagaimana sebuah pertunjukan atau
pameran. Teknik ini bermanfaat melindungi mereka yang tidak mampu
menggunakan materi pada level eksperimen yang lebih tinggi; membiarkan
mereka yang menginginkan puisi, untuk memilih puisi; memberi hiburan
kepada orang-orang yang menginginkan cerita; mendorong kaum intelektual
yang menghargai pengalaman-pengalaman tersebut.
Salah satu pernyataan kalimat-kalimatnya yang terkenal adalah judul dari pembicaraan-ringannya: “Yang ada di dalam ada di dalam” (“Engkau mengeluarkan apa yang ada di dalam untuk dirimu”).
Ar-Rumi memiliki kegelisahan Sufistik
yang luar biasa dalam kesusastraan dan puisi, melebihi pujangga di
zamannya, dan terus menerus menegaskan bahwa pencapaian tersebut adalah
sebagian kecil dibandingkan dengan kesufian.
SEBERAPA JAUH ENGKAU DATANG!
Sesungguhnya, engkau adalah tanah
liat. Dari bentukan mineral, kau menjadi sayur-sayuran. Dari sayuran,
kau menjadi binatang, dan dari binatang ke manusia. Selama periode ini,
manusia tidak tahu ke mana ia telah pergi, tetapi ia telah ditentukan
menempuh perjalanan panjang. Dan engkau harus pergi melintasi ratusan
dunia yang berbeda.
JALAN Jalan sudah ditandai.
Jika menyimpang darinya, kau akan binasa.
Jika mencoba mengganggu tanda-tanda jalan tersebut,
kau melakukan perbuatan setan.
JALAN Jalan sudah ditandai.
Jika menyimpang darinya, kau akan binasa.
Jika mencoba mengganggu tanda-tanda jalan tersebut,
kau melakukan perbuatan setan.
EMPAT LAKI-LAKI DAN PENERJEMAH
Empat orang diberi sekeping uang.
Pertama adalah orang Persia, ia berkata, “Aku akan membeli anggur.”
Kedua adalah orang Arab, ia berkata, “Tidak, karena aku ingin inab.”
Ketiga adalah orang Turki, ia berkata, “Aku tidak ingin inab, aku ingin uzum.”
Keempat adalah orang Yunani, ia berkata, “Aku ingin stafil.”
Karena mereka tidak tahu arti nama-nama
tersebut, mereka mulai bertengkar. Mereka memang sudah mendapat
informasi, tetapi tanpa pengetahuan.
Orang bijak yang memperhatikan mereka
berkata, “Aku tidak dapat memenuhi semua keinginan kalian, hanya dengan
sekeping uang yang sama. Jika kalian jujur percayalah kepadaku, sekeping
uang kalian akan menjadi empat; dan keempatnya akan menjadi satu.”
Mereka pun tahu bahwa sebenarnya keempatnya dalam bahasa masing-masing, menginginkan benda yang sama, buah anggur.
AKU ADALAH KEHIDUPAN KEKASIHKU
Apa yang dapat aku lakukan, wahai ummat Muslim?
Aku tidak mengetahui diriku sendiri.
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi,
bukan Majusi, bukan Islam.
Bukan dari Timur, maupun Barat.
Bukan dari darat, maupun laut.
Bukan dari Sumber Alam,
bukan dari surga yang berputar,
Bukan dari bumi, air, udara, maupun api;
Bukan dari singgasana, penjara, eksistensi, maupun makhluk;
Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqseen;
Bukan dari kerajaan Iraq, maupun Khurasan;
Bukan dari dunia kini atau akan datang:
surga atau neraka;
Bukan dari Adam, Hawa,
taman Surgawi atau Firdaus;
Tempatku tidak bertempat,
jejakku tidak berjejak.
Baik raga maupun jiwaku: semuanya
adalah kehidupan Kekasihku …
Aku tidak mengetahui diriku sendiri.
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi,
bukan Majusi, bukan Islam.
Bukan dari Timur, maupun Barat.
Bukan dari darat, maupun laut.
Bukan dari Sumber Alam,
bukan dari surga yang berputar,
Bukan dari bumi, air, udara, maupun api;
Bukan dari singgasana, penjara, eksistensi, maupun makhluk;
Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqseen;
Bukan dari kerajaan Iraq, maupun Khurasan;
Bukan dari dunia kini atau akan datang:
surga atau neraka;
Bukan dari Adam, Hawa,
taman Surgawi atau Firdaus;
Tempatku tidak bertempat,
jejakku tidak berjejak.
Baik raga maupun jiwaku: semuanya
adalah kehidupan Kekasihku …
BURUNG HANTU DAN ELANG RAJA
Seekor elang kerajaan hinggap di
dinding reruntuhan yang dihuni burung hantu. Burung-burung hantu
menakutkannya, si elang berkata, “Bagi kalian tempat ini mungkin tampak
makmur, tetapi tempatku ada di pergelangan tangan raja.” Beberapa burung
hantu berteriak kepada temannya, “Jangan percaya kepadanya! Ia
menggunakan tipu muslihat untuk mencuri rumah kita.”
DIMENSI LAIN Dunia tersembunyi memiliki awan dan hujan,
tetapi dalam jenis yang berbeda.
Langit dan cahaya mataharinya, juga berbeda.
Ini tampak nyata,
hanya untuk orang yang berbudi halus –
mereka yang tidak tertipu oleh kesempurnaan dunia yang semu.
DIMENSI LAIN Dunia tersembunyi memiliki awan dan hujan,
tetapi dalam jenis yang berbeda.
Langit dan cahaya mataharinya, juga berbeda.
Ini tampak nyata,
hanya untuk orang yang berbudi halus –
mereka yang tidak tertipu oleh kesempurnaan dunia yang semu.
MANFAAT PENGALAMAN
Kebenaran yang agung ada pada kita
Panas dan dingin, duka cita dan penderitaan,
Ketakutan dan kelemahan dari kekayaan dan raga
Bersama, supaya kepingan kita yang paling dalam
Menjadi nyata.
Panas dan dingin, duka cita dan penderitaan,
Ketakutan dan kelemahan dari kekayaan dan raga
Bersama, supaya kepingan kita yang paling dalam
Menjadi nyata.
KESADARAN
Manusia mungkin berada dalam keadaan gembira, dan manusia
lainnya berusaha untuk menyadarkan. Itu memang usaha yang baik. Namun
keadaan ini mungkin buruk baginya, dan kesadaran mungkin baik baginya.
Membangunkan orang yang tidur, baik atau buruk tergantung siapa yang
melakukannya. Jika si pembangun adalah orang yang memiliki pencapaian
tinggi, maka akan meningkatkan keadaan orang lain. Jika tidak, maka akan
memburukkan kesadaran orang lain.
DIA TIDAK DI TEMPAT LAIN
MEREKA YANG TAHU, TIDAK DAPAT BICARA
Kapan pun Rahasia Pemahaman diajarkan kepada semua orang
Bibir-Nya dijahit melawan pembicaraan tentang Kesadaran.
Bibir-Nya dijahit melawan pembicaraan tentang Kesadaran.
JOHA DAN KEMATIAN
Seorang anak laki-laki menangis
dan berteriak di belakang jenazah ayahnya, ia berkata, “Ayah! Mereka
membawamu ke tempat di mana tidak ada pelindung lantai. Di sana tidak
ada cahaya, tidak ada makanan; tidak ada pintu maupun bantuan tetangga…”
Joha, diperingatkan karena penjelasan tampaknya mencukupi, berteriak kepada ayahnya sendiri:
“Orangtua yang dihormati oleh Allah, mereka diambil ke rumah kami!”
KECERDASAN DAN PEMAHAMAN SEJATI
Kecerdasan adalah bayangan dari Kebenaran obyektif
Bagaimana bayangan dapat bersaing dengan cahaya matahari? REALITAS SEJATI Di sini, tidak ada bukti akademis di dunia;
Karena tersembunyi, dan tersembunyi, dan tersembunyi.
Bagaimana bayangan dapat bersaing dengan cahaya matahari? REALITAS SEJATI Di sini, tidak ada bukti akademis di dunia;
Karena tersembunyi, dan tersembunyi, dan tersembunyi.
JIWA MANUSIA
Pergilah lebih tinggi — Lihatlah Jiwa Manusia!
PELEPASAN MENIMBULKAN PEMAHAMAN
Wahai Hati! Sampai dalam penjara muslihat,
kau dapat melihat perbedaan antara Ini dan Itu,
Karena pelepasan seketika dari Sumber Tirani;
bertahan di luar
kau dapat melihat perbedaan antara Ini dan Itu,
Karena pelepasan seketika dari Sumber Tirani;
bertahan di luar
KAU DAN AKU
Nikmati waktu selagi kita duduk di punjung, Kau dan Aku;
Dalam dua bentuk dan dua wajah — dengan satu jiwa,
Kau dan Aku.
Warna-warni taman dan nyanyian burung memberi obat keabadian
Seketika kita menuju ke kebun buah-buahan, Kau dan Aku.
Bintang-bintang Surga keluar memandang kita –
Kita akan menunjukkan Bulan pada mereka, Kau dan Aku.
Kau dan Aku, dengan tiada ‘Kau’ atau ‘Aku’,
akan menjadi satu melalui rasa kita;
Bahagia, aman dari omong-kosong, Kau dan Aku.
Burung nuri yang ceria dari surga akan iri pada kita –
Ketika kita akan tertawa sedemikian rupa; Kau dan Aku.
Ini aneh, bahwa Kau dan Aku, di sudut sini …
Keduanya dalam satu nafas di Iraq, dan di Khurasan –
Kau dan Aku.
Dalam dua bentuk dan dua wajah — dengan satu jiwa,
Kau dan Aku.
Warna-warni taman dan nyanyian burung memberi obat keabadian
Seketika kita menuju ke kebun buah-buahan, Kau dan Aku.
Bintang-bintang Surga keluar memandang kita –
Kita akan menunjukkan Bulan pada mereka, Kau dan Aku.
Kau dan Aku, dengan tiada ‘Kau’ atau ‘Aku’,
akan menjadi satu melalui rasa kita;
Bahagia, aman dari omong-kosong, Kau dan Aku.
Burung nuri yang ceria dari surga akan iri pada kita –
Ketika kita akan tertawa sedemikian rupa; Kau dan Aku.
Ini aneh, bahwa Kau dan Aku, di sudut sini …
Keduanya dalam satu nafas di Iraq, dan di Khurasan –
Kau dan Aku.
DUA ALANG-ALANG
Dua alang-alang minum dari satu sungai.
Satunya palsu, lainnya tebu.
Satunya palsu, lainnya tebu.
AKAN JADI APA DIRIKU?
Aku terus dan terus tumbuh seperti rumput;
Aku telah alami tujuhratus dan tujuhpuluh bentuk.
Aku mati dari mineral dan menjadi sayur-sayuran;
Dan dari sayuran Aku mati dan menjadi binatang.
Aku mati dari kebinatangan menjadi manusia.
Maka mengapa takut hilang melalui kematian?
Kelak aku akan mati
Membawa sayap dan bulu seperti malaikat:
Kemudian melambung lebih tinggi dari malaikat –
Apa yang tidak dapat kau bayangkan.
Aku akan menjadi itu.
Aku telah alami tujuhratus dan tujuhpuluh bentuk.
Aku mati dari mineral dan menjadi sayur-sayuran;
Dan dari sayuran Aku mati dan menjadi binatang.
Aku mati dari kebinatangan menjadi manusia.
Maka mengapa takut hilang melalui kematian?
Kelak aku akan mati
Membawa sayap dan bulu seperti malaikat:
Kemudian melambung lebih tinggi dari malaikat –
Apa yang tidak dapat kau bayangkan.
Aku akan menjadi itu.
RASUL
Rasul adalah mabuk tanpa anggur:
Rasul adalah kenyang tanpa makanan.
Rasul adalah terpesona, takjub:
Rasul adalah tidak makan maupun tidur
Rasul adalah raja di balik jubah kasar:
Rasul adalah harta benda dalam reruntuhan.
Rasul adalah bukan dari angin dan bumi:
Rasul adalah bukan dari api dan air.
Rasul adalah laut tanpa pantai:
Rasul adalah hujan mutiara tanpa menalang.
Rasul adalah memiliki ratusan bulan dan langit:
Rasul adalah memiliki ratusan cahaya matahari.
Rasul adalah bijaksana melalui Kebenaran:
Rasul adalah bukan sarjana karena buku.
Rasul adalah melebihi keyakinan dan kesangsian:
Karena Rasul apakah ada ‘dosa’ atau ‘kebaikan’?
Rasul berangkat dari Ketiadaan:
Rasul telah tiba, benar-benar berangkat.
Rasul adalah, Tersembunyi, Wahai Syamsuddin!
Carilah, dan temukan – Rasul!
Rasul adalah kenyang tanpa makanan.
Rasul adalah terpesona, takjub:
Rasul adalah tidak makan maupun tidur
Rasul adalah raja di balik jubah kasar:
Rasul adalah harta benda dalam reruntuhan.
Rasul adalah bukan dari angin dan bumi:
Rasul adalah bukan dari api dan air.
Rasul adalah laut tanpa pantai:
Rasul adalah hujan mutiara tanpa menalang.
Rasul adalah memiliki ratusan bulan dan langit:
Rasul adalah memiliki ratusan cahaya matahari.
Rasul adalah bijaksana melalui Kebenaran:
Rasul adalah bukan sarjana karena buku.
Rasul adalah melebihi keyakinan dan kesangsian:
Karena Rasul apakah ada ‘dosa’ atau ‘kebaikan’?
Rasul berangkat dari Ketiadaan:
Rasul telah tiba, benar-benar berangkat.
Rasul adalah, Tersembunyi, Wahai Syamsuddin!
Carilah, dan temukan – Rasul!
KEBENARAN
Nabi bersabda bahwa Kebenaran telah dinyatakan:
“Aku tidak tersembunyi, tinggi atau rendah
Tidak di bumi, langit atau singgasana.
Ini kepastian, wahai kekasih:
Aku tersembunyi di kalbu orang yang beriman.
Jika kau mencari aku, carilah di kalbu-kalbu ini.”
“Aku tidak tersembunyi, tinggi atau rendah
Tidak di bumi, langit atau singgasana.
Ini kepastian, wahai kekasih:
Aku tersembunyi di kalbu orang yang beriman.
Jika kau mencari aku, carilah di kalbu-kalbu ini.”
ILMU PENGETAHUAN
Pengetahuan akan Kebenaran lenyap dalam pengetahuan Sufi. Kapan manusia akan memahami ucapan ini?
DEBU DI ATAS CERMIN Hidup/jiwa seperti cermin bening; tubuh adalah debu di atasnya. Kecantikan kita tidak terasa, karena kita berada di bawah debu.
TINDAKAN DAN KATA-KATA Aku memberi orang-orang
apa yang mereka inginkan.
Aku membawakan sajak karena mereka
menyukainya sebagai hiburan.
Di negaraku, orang tidak menyukai puisi.
Sudah lama aku mencari orang yang
menginginkan tindakan, tetapi
mereka semua ingin kata-kata.
Aku siap menunjukkan tindakan pada kalian;
tetapi tidak seorang pun akan menyikapinya.
Maka aku hadirkan padamu — kata-kata.
Ketidakpedulian yang bodoh
akhirnya membahayakan,
Bagaimanapun hatinya satu denganmu.
DEBU DI ATAS CERMIN Hidup/jiwa seperti cermin bening; tubuh adalah debu di atasnya. Kecantikan kita tidak terasa, karena kita berada di bawah debu.
TINDAKAN DAN KATA-KATA Aku memberi orang-orang
apa yang mereka inginkan.
Aku membawakan sajak karena mereka
menyukainya sebagai hiburan.
Di negaraku, orang tidak menyukai puisi.
Sudah lama aku mencari orang yang
menginginkan tindakan, tetapi
mereka semua ingin kata-kata.
Aku siap menunjukkan tindakan pada kalian;
tetapi tidak seorang pun akan menyikapinya.
Maka aku hadirkan padamu — kata-kata.
Ketidakpedulian yang bodoh
akhirnya membahayakan,
Bagaimanapun hatinya satu denganmu.
KERJA
Kerja bukan seperti yang dipikirkan orang.
Bukan sekadar sesuatu yang
jika sedang berlangsung, kau
dapat melihatnya dari luar.
Seberapa lama kita, di Bumi-dunia,
seperti anak-anak
Memenuhi lintasan kita dengan debu dan batu dan serpihan-serpihan?
Mari kita tinggalkan dunia
dan terbang ke surga,
Mari kita tinggalkan kekanak-kanakan
dan menuju ke kelompok Manusia.
Bukan sekadar sesuatu yang
jika sedang berlangsung, kau
dapat melihatnya dari luar.
Seberapa lama kita, di Bumi-dunia,
seperti anak-anak
Memenuhi lintasan kita dengan debu dan batu dan serpihan-serpihan?
Mari kita tinggalkan dunia
dan terbang ke surga,
Mari kita tinggalkan kekanak-kanakan
dan menuju ke kelompok Manusia.
RUMAH
Jika sepuluh orang ingin memasuki
sebuah rumah, dan hanya sembilan yang menemukan jalan masuk, yang
kesepuluh mestinya tidak mengatakan, “Ini sudah takdir Tuhan.”
Ia seharusnya mencari tahu apa kekurangannya.
BURUNG HANTU Hanya burung bersuara merdu yang dikurung.
Burung hantu tidak dimasukkan sangkar
BURUNG HANTU Hanya burung bersuara merdu yang dikurung.
Burung hantu tidak dimasukkan sangkar
UPAYA
Ikat dua burung bersama.
Mereka tidak akan dapat terbang,
kendati mereka tahu memiliki empat sayap.
Mereka tidak akan dapat terbang,
kendati mereka tahu memiliki empat sayap.
PENCARIAN
Carilah mutiara, saudaraku, di dalam tempurung;
Dan carilah keahlian diantara manusia di dunia.
Dan carilah keahlian diantara manusia di dunia.
TUGAS INI
Kau mempunyai tugas untuk dijalankan.
Lakukan yang lainnya, lakukan sejumlah kegiatan, isilah waktumu secara
penuh, dan jika kau tidak menjalankan tugas ini, seluruh waktumu akan
sia-sia.
KOMUNITAS CINTA
Komunitas Cinta tersembunyi diantara orang banyak;
Seperti orang baik dikelilingi orang jahat.
Seperti orang baik dikelilingi orang jahat.
SEBUAH BUKU
Tujuan sebuah buku mungkin sebagai
petunjuk. Namun kau dapat juga menggunakannya sebagai bantal; Kendati
sasarannya adalah memberi pengetahuan, petunjuk, keuntungan.
Ia berkata, “Siapa itu berada di pintu?”
Aku berkata, “Hamba sahaya Paduka.”
Ia berkata, “Kenapa kau ke mari?”
Aku berkata, “Untuk menyampaikan hormat padamu, Gusti.”
Ia berkata, “Berapa lama kau bisa bertahan?”
Aku berkata, “Sampai ada panggilan.”
Aku pun menyatakan cinta, aku mengambil sumpah
Bahwa demi cinta aku telah kehilangan kekuasaan.
Ia berkata, “Hakim menuntut saksi kalau ada pernyataan.”
Aku berkata, “Air mata adalah saksiku, pucatnya wajahku adalah buktiku.”
Ia berkata, “Saksi tidak sah, matamu juling.”
Aku berkata, “Karena wibawa keadilanmu mataku terbebas dari dosa.”
Syair religius di atas adalah cuplikan
dari salah satu puisi karya penyair sufi terbesar dari Persia,
Jalaluddin Rumi. Kebesaran Rumi terletak pada kedalaman ilmu dan
kemampuan mengungkapkan perasaannya ke dalam bahasa yang indah. Karena
kedalaman ilmunya itu, puisi-puisi Rumi juga dikenal mempunyai kedalaman
makna. Dua hal itulah –kedalaman makna dan keindahan bahasa– yang
menyebabkan puisi-puisi Rumi sulit tertandingi oleh penyair sufi sebelum
maupun sesudahnya.
Rumi memang bukan sekadar penyair, tetapi ia juga tokoh sufi
yang berpengaruh pada zamannya. Rumi adalah guru nomor satu tarekat
Maulawiah –sebuah tarekat yang berpusat di Turki dan berkembang di
daerah sekitarnya. Tarekat Maulawiah pernah berpengaruh besar dalam
lingkungan Istana Turki Utsmani dan kalangan seniman pada sekitar tahun l648.
Sebagai tokoh sufi, Rumi sangat
menentang pendewa-dewaan akal dan indera dalam menentukan kebenaran.
Pada zamannya, ummat Islam memang sedang dilanda penyakit itu.
Bagi kelompok yang mengagul-agulkan
akal, kebenaran baru dianggap benar bila mampu digapai oleh indera dan
akal. Segala sesuatu yang tidak dapat diraba oleh indera dan akal,
cepat-cepat mereka ingkari dan tidak diakui.
Padahal, menurut Rumi, justru pemikiran
semacam itulah yang dapat melemahkan iman kepada sesuatu yang ghaib. Dan
karena pengaruh pemikiran seperti itu pula, kepercayaan kepada segala
hakekat yang tidak kasat mata, yang diajarkan berbagai syariat dan
beragam agama samawi, bisa menjadi goyah.
Rumi mengatakan, “Orientasi kepada indera dalam menetapkan segala hakekat keagamaan adalah gagasan yang dipelopori kelompok Mu’tazilah. Mereka merupakan para budak yang tunduk patuh kepada panca indera. Mereka menyangka dirinya termasuk Ahlussunnah. Padahal, sesungguhnya Ahlussunnah sama sekali tidak terikat kepada indera-indera, dan tidak mau pula memanjakannya.”
Bagi Rumi, tidak layak meniadakan
sesuatu hanya karena tidak pernah melihatnya dengan mata kepala atau
belum pernah meraba dengan indera. Sesungguhnya, batin akan selalu
tersembunyi di balik yang lahir, seperti faedah penyembuhan yang
terkandung dalam obat. “Padahal, yang lahir itu senantiasa menunjukkan
adanya sesuatu yang tersimpan, yang tersembunyi di balik dirinya.
Bukankah Anda mengenal obat yang bermanfaat? Bukankah kegunaannya
tersembunyi di dalamnya?” tegas Rumi.
WAFAT
Semua manusia tentu akan kembali kepada-Nya. Demikianlah yang terjadi pada Rumi. Penduduk Konya tiba-tiba dilanda kecemasan, gara-gara mendengar kabar bahwa tokoh panutan mereka, Rumi, sakit keras. Meski menderita sakit keras, pikiran Rumi masih menampakkan kejernihannya.
Seorang sahabatnya datang menjenguk dan
mendo’akan, “Semoga Allah berkenan memberi ketenangan kepadamu dengan
kesembuhan.” Rumi sempat menyahut, “Jika engkau beriman dan bersikap
manis, kematian itu akan bermakna baik. Tapi kematian ada juga kafir dan
pahit.”
Pada 5 Jumadil Akhir 672 H dalam usia 68 tahun
Rumi dipanggil ke rahmatullah. Tatkala jenazahnya hendak
diberangkatkan, penduduk setempat berdesak-desak ingin menyaksikan.
Begitulah kepergian seseorang yang dihormati ummatnya.
TULISAN DI BATU NISAN JALALUDDIN AR-RUMI
Ketika kita mati, jangan cari pusara kita di bumi, tetapi carilah di hati manusia.
Aku mati sebagai mineral
dan menjelma sebagai tumbuhan,
aku mati sebagai tumbuhan
dan lahir kembali sebagai binatang.
Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.
Kenapa aku harus takut?
Maut tidak pernah mengurangi sesuatu dari diriku.
dan menjelma sebagai tumbuhan,
aku mati sebagai tumbuhan
dan lahir kembali sebagai binatang.
Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.
Kenapa aku harus takut?
Maut tidak pernah mengurangi sesuatu dari diriku.
Sekali lagi,
aku masih harus mati sebagai manusia,
dan lahir di alam para malaikat.
Bahkan setelah menjelma sebagai malaikat,
aku masih harus mati lagi;
Karena, kecuali Tuhan,
tidak ada sesuatu yang kekal abadi.
aku masih harus mati sebagai manusia,
dan lahir di alam para malaikat.
Bahkan setelah menjelma sebagai malaikat,
aku masih harus mati lagi;
Karena, kecuali Tuhan,
tidak ada sesuatu yang kekal abadi.
Setelah kelahiranku sebagai malaikat,
aku masih akan menjelma lagi
dalam bentuk yang tak kupahami.
Ah, biarkan diriku lenyap,
memasuki kekosongan, kasunyataan
Karena hanya dalam kasunyataan itu
terdengar nyanyian mulia;
aku masih akan menjelma lagi
dalam bentuk yang tak kupahami.
Ah, biarkan diriku lenyap,
memasuki kekosongan, kasunyataan
Karena hanya dalam kasunyataan itu
terdengar nyanyian mulia;
“Kepada Nya, kita semua akan kembali”
Apa Yang mesti Ku lakukan
Apa yang mesti kulakukan, O Muslim? Aku tak mengenal didiku sendiri
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi, bukan Gabar, bukan Muslim
Aku bukan dari Timur, bukan dari Barat, bukan dari darat, bukan dari laut,
Aku bukan dari alam, bukan dari langit berputar,
Aku bukan dari tanah, bukan dari air, bukan dari udara, bukan dari api,
Aku bukan dari cahaya, bukan dari debu, bukan dari wujud dan bukan dari hal
Aku bukan dari India, bukan dari Cina, bukan dari Bulgaria, bukan dari Saqsin,
Aku bukan dari Kerajaan Iraq, bukan dari negeri Korazan.
Aku bukan dari dunia in ataupun dari akhirat, bukan dari Sorga ataupun Neraka
Aku bukan dari Adam, bukan dari Hawa, bukan dari Firdaus bukan dari Rizwan
Tempatku adalah Tanpa tempat, jejakku adalah tak berjejak
Ini bukan raga dan jiwa, sebab aku milik jiwa Kekasih
Telah ku buang anggapan ganda, kulihat dua dunia ini esa
Esa yang kucari, Esa yang kutahu, Esa yang kulihat, Esa yang ku panggil
Ia yang pertama, Ia yang terakhir, Ia yang lahir, Ia yang bathin
Tidak ada yang kuketahui kecuali :Ya Hu” dan “Ya man Hu”
Aku mabok oleh piala Cinta, dua dunia lewat tanpa kutahu
Aku tak berbuat apa pun kecuali mabok gila-gilaan
Kalau sekali saja aku semenit tanpa kau,
Saat itu aku pasti menyesali hidupku
Jika sekali di dunia ini aku pernah sejenak senyum,
Aku akan merambah dua dunia, aku akan menari jaya sepanjang masa.
O Syamsi Tabrizi, aku begitu mabok di dunia ini,
Tak ada yang bisa kukisahkan lagi, kecuali tentang mabok dan gila-gilaan.
Apa yang mesti kulakukan, O Muslim? Aku tak mengenal didiku sendiri
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi, bukan Gabar, bukan Muslim
Aku bukan dari Timur, bukan dari Barat, bukan dari darat, bukan dari laut,
Aku bukan dari alam, bukan dari langit berputar,
Aku bukan dari tanah, bukan dari air, bukan dari udara, bukan dari api,
Aku bukan dari cahaya, bukan dari debu, bukan dari wujud dan bukan dari hal
Aku bukan dari India, bukan dari Cina, bukan dari Bulgaria, bukan dari Saqsin,
Aku bukan dari Kerajaan Iraq, bukan dari negeri Korazan.
Aku bukan dari dunia in ataupun dari akhirat, bukan dari Sorga ataupun Neraka
Aku bukan dari Adam, bukan dari Hawa, bukan dari Firdaus bukan dari Rizwan
Tempatku adalah Tanpa tempat, jejakku adalah tak berjejak
Ini bukan raga dan jiwa, sebab aku milik jiwa Kekasih
Telah ku buang anggapan ganda, kulihat dua dunia ini esa
Esa yang kucari, Esa yang kutahu, Esa yang kulihat, Esa yang ku panggil
Ia yang pertama, Ia yang terakhir, Ia yang lahir, Ia yang bathin
Tidak ada yang kuketahui kecuali :Ya Hu” dan “Ya man Hu”
Aku mabok oleh piala Cinta, dua dunia lewat tanpa kutahu
Aku tak berbuat apa pun kecuali mabok gila-gilaan
Kalau sekali saja aku semenit tanpa kau,
Saat itu aku pasti menyesali hidupku
Jika sekali di dunia ini aku pernah sejenak senyum,
Aku akan merambah dua dunia, aku akan menari jaya sepanjang masa.
O Syamsi Tabrizi, aku begitu mabok di dunia ini,
Tak ada yang bisa kukisahkan lagi, kecuali tentang mabok dan gila-gilaan.